8 Penyebab dan Cara Memperbaiki Gerinda Cepat Panas
Safety K3

8 Penyebab dan Cara Memperbaiki Gerinda Cepat Panas

20 April 2023

Di dalam dunia pertukangan ataupun pekerjaan kasar terdapat beberapa peralatan yang sangat membantu dan memudahkan pekerjaan. Salah satunya adalah gerinda yang biasa digunakan untuk memotong benda berbahan logam dll. Selain itu gerinda juga biasa digunakan untuk mengasah benda agar lebih tajam dan juga untuk mengikis permukaan benda agar lebih halus.

Namun ada kalanya gerinda yang digunakan mengalami masalah seperti cepat panas, konslet / korslet, gerinda yang mati nyala, kerusakan pada carbon brush, kerusakan pada lamel komutator, armature dan bearing.

Penyebab Dan Cara Mengatasi Gerinda Yang Cepat Panas

Nah di artikel kali ini kami akan membahas mengenai penyebab kerusakan gerinda yang cepat panas beserta cara memperbaiki dan mengatasi gerinda yang cepat panas.

1. Bearing Macet

Bearing merupakan bantalan tempat berputarnya poros. Jika bearing pada gerinda dalam kondisi macet maka akan timbul gesekan antara bearing dan poros sehingga  membuat perputaran poros pada mesin menjadi berat.

Semakin lama gesekan tersebut terjadi maka akan menimbulkan panas pada gerinda. Oleh karena itu perlu dilakukan pembersihan / pelumasan pada bearing dan jika perlu lakukan penggantian bearing yang baru untuk mengatasi gerinda yang cepat panas.

2. Kerusakan Pada Bearing

memperbaiki bearing gerinda

Selain bearing yang macet ternyata ada juga masalah lain yang sering timbul pada bearing yaitu bearing yang koclak / oblag (goyang-goyang). Bearing yang koclak tersebut membuat perputaran poros mesin gerinda menjadi tidak seimbang.

Ketidakseimbangan tersebut membuat poros mesin menjadi goyang dan juga menyenggol bagian gerinda lainnya. Hal itu menjadi penyebab timbulnya gesekan pada gerinda sehingga menyebabkan gerinda cepat panas. Solusi dari bearing yang koclak adalah dengan penggantian bearing baru sehingga permasalahan gerinda yang cepat panas dapat teratasi.

3. Carbon brush Yang Sudah Habis Atau Tidak Sesuai

penyebab gerinda cepat panas

Carbon brush merupakan komponen yang ada pada gerinda dan digunakan untuk menghubungkan lilitan stator dengan lilitan angker (armature rotor). Komponen ini membuat aliran listrik dapat mengalir pada kedua lilitan tersebut.

Carbon brush biasanya terletak dan menempel pada lamel komutator. Komponen ini memiliki pegas yang memberikan tekanan sehingga ketika lamel komutator berputar dengan kencang maka carbon brush ini tetap menekan dan tetap memberikan suplay arus pada lilitan rotor melalui lamel komutator.

Penggunaan gerinda yang terlalu sering membuat carbon brush mengecil akibat terkikis oleh lamel komutator. Ketika hal tersebut terjadi maka kekuatan pegas akan bergurang dan menyebabkan gerinda cepat panas. Jika gerinda kalian cepat panas yang disebabkan oleh carbon brush yang mulai mengecil maka perlu dilakukan penggantian carbon brush yang cocok dan tahan lama.

4. Permasalahan Pada Lamel Komutator

penyebab gerinda cepat panas

Lamel komutator merupakan bagian yang menghubungkan carbon brush dengan lilitan rotor (bagian yang berputar). Kerusakan pada lamel komutator menjadi salah satu penyebab gerinda cepat panas.

Lamel komutator yang masih bagus ditandai dengan bentuk yang masih simetris (tidak cekung) dan masih berwarna orange. Sedangkan lamel komutator yang sudah tidak baik ditandai dengan bentuk yang cekung dan berwarna hitam. Lamel komutator yang sudah tidak baik membuat arus tidak mengalir maksimal ke rotor. 

Solusi lamel komutator yang sudah usang adalah dengan membersihkannya dan jika sudah tidak layak pakai maka perlu dilakukan penggantian lamel komutator yang baru.

5. Kumparan Yang Rusak

cara memperbaiki gerinda cepat panas

Hal lain yang menyebabkan gerinda cepat panas adalah kumparannya yang sudah rusak. Cara mengetahui bahwa kumparan gerinda sudah rusak adalah warna kumparan telah berwarna hitam atau merah terbakar dan isolasi kumparannya sudah meleleh.

Selain mengidentifikasi secara langsung, kerusakan kumparan dapat diamati pada saat gerinda digunakan, seperti suara sudah tidak halus dan banyaknya bunga api yang timbul pada lamel komutator.

Hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kerusakan kumparan ini adalah dengan menggulung ulang menggunakan kumparan yang baru. Namun hal ini perlu dilakukan oleh orang yang sudah ahli seperti tukang servis.

6. Kualitas Gerinda Yang Rendah

Salah satu penyebab mengapa gerinda cepat panas adalah karena komponen yang digunakan berkualitas rendah. Ada beberapa ciri atau karakteristik untuk mengidentifikasi gerinda yang memiliki kualitas rendah diantaranya adalah harga lebih murah dibandingkan harga pada umumnya, build quality yang tidak kokoh, beratnya ringan dan sering mengalami masalah.

Oleh karena itu disarankan untuk menggunakan gerinda dengan  kualitas yang baik. Kalian tentunya tidak asing dengan ungkapan "Ada harga ada barang" yap betul, semakin tinggi harga suatu barang semakin baik pula kualitasnya. Hal tersebut juga berlaku pada gerinda.

Lebih baik memilih gerinda yang lebih mahal namun awet daripada memilih gerinda yang murah namun cepat rusak. Dan juga lebih baik membeli gerinda bekas namun berkualitas tinggi daripada gerinda murah namun kualitasnya buruk.

7. Putusnya Aliran Listrik Pada Salah Satu Kumparan Stator

Stator merupakan sepasang gulungan (kumparan) tembaga yang memiliki dua jalur listrik dan menjadi bagian mesin gerinda yang tidak bergerak. Putusnya salah satu jalur listrik Stator membuat aliran listrik di jalur tersebut tidak mengalir. Hal itu menyebabkan perputaran armature menjadi tidak beraturan dan dapat menyenggol (menggesek) stator.

Gesekan yang terjadi antara armature dan stator menyebabkan mesin gerinda cepat panas dan yang lebih parah dapat menyebabkan korsleting listrik yang membuat gulungan stator terbakar.

8. Mesin Yang Tidak Stabil

Mesin yang bekerja dalam kondisi tidak stabil juga menjadi penyebab mengapa gerinda cepat panas. Beberapa hal yang menyebabkan mesin gerinda tidak stabil diantaranya : 

  • Adanya material asing yang masuk ke dalam gerinda
  • Bearing yang sudah rusak
  • Angker yang sudah bengkok
  • Body gerinda bengkok atau pecah
  • Stator yang bengkok

Untuk mengatasi masalah ketidakstabilan mesin tersebut maka perlu dilakukan pengecekan mendetail. Jika terdapat bagian yang sudah tidak normal maka perlu dilakukan perbaikan jika perlu mengganti beberapa komponennya.

Artikel Lainnya

Mengapa perlu melakukan penilaian risiko kebakaran?
Safety K326 Agustus 2024

Mengapa perlu melakukan penilaian risiko kebakaran?

Penilaian risiko kebakaran dirancang untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kebakaran dengan mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko kebakaran di dalam gedung. Namun, tidak hanya memeriksa struktur bangunan itu sendiri, tapi isi bangunan, tata letak, dan penggunaan bangunan. Bagaimana penggunaan bangunan tersebut mempengaruhi risiko kebakaran? Berapa banyak orang yang ada di dalam gedung? Bagaimana mereka akan selamat jika terjadi kebakaran? Langkah apa yang harus diambil untuk meminimalisir bahaya?

Untuk bisnis atau bangunan umum seperti toko, gedung perkantoran, atau tempat-tempat vital lainnya dan bahkan stasiun bis dan kereta api, perlu dilakukan penilaian risiko kebakaran. Semua properti perlu mendapat penilaian risiko kebakaran. Ini bukan dokumen opsional dan diwajibkan oleh hukum Inggris.

Penilaian Resiko Kebakaran adalah proses yang melibatkan evaluasi sistematis terhadap faktor-faktor yang menentukan bahaya kebakaran, serta kemungkinan kebakaran akan terjadi, dan konsekuensinya jika terjadi.

5 langkah untuk Penilaian Risiko:

  1. Identify fire hazards
  2. Identify people at risk
  3. Evaluate, Remove, Reduce and Protect from risk
  4. Record, Plan, Inform, Instruct and Train
  5. Review and Evaluate

Penting untuk diingat bahwa Penilaian Resiko Kebakaran Anda harus menunjukkan bahwa sejauh masuk akal, Anda telah mempertimbangkan kebutuhan semua orang yang relevan termasuk penyandang cacat, atau gangguan yang dapat mengurangi pelarian mereka dari tempat tersebut.

Tapi mengapa perlu penilaian risiko kebakaran?

Alasannya adalah bahwa penilaian risiko kebakaran diperlukan karena diatur dalam Regulatory Reform (Fire Safety) Order 2005. Di Indonesia Penerapan FRA ini dapat mengacu kepada standar National Fire Protection Association (NFPA) dan juga peraturan lokal seperti PerMen PU No. 26 Tahun 2008. Pengelolaan proteksi kebakaran adalah upaya mencegah terjadinya kebakaran atau meluasnya kebakaran ke ruangan-ruangan ataupun lantai-lantai bangunan, termasuk ke bangunan lainnya melalui eliminasi ataupun minimalisasi risiko bahaya kebakaran, pengaturan zona-zona yang berpotensi menimbulkan kebakaran, serta kesiapan dan kesiagaan sistem proteksi aktif maupun pasif.

Secara sederhana, peraturan tersebut menyatakan bahwa penilaian risiko kebakaran harus dilakukan, namun juga mencantumkan berbagai persyaratan lainnya seperti: siapa yang dapat melakukan penilaian risiko kebakaran, siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kebakaran, bagaimana prosedur dalam tanggap darurat dan untuk wilayah rawan bahaya, bagaiamana memberikan sosialisasi kepada setiap karyawan sehingga karyawan mampu menyelamatkan diri, dan informasi apa yang harus diberikan kepada karyawan.

Penting untuk dipahami bahwa kegagalan mematuhi Regulasi (Keselamatan Kebakaran) atau kelalaian yang menyebabkan kebakaran pada orang lain dapat dituntut secara pidana kurungan paling lama 5 tahun atau pidana kurungan paling lama setahun menurut pasal 188 KUHP. Dalam beberapa kasus, pihak yang bersalah berakhir dengan hukuman penjara.

Penting untuk dicatat bahwa undang-undang meminta penilaian risiko agar ‘sesuai’ dan ‘cukup’. Masalahnya adalah bahwa ada tingkat interpretasi di sini: apa yang mungkin cocok untuk satu properti tentu tidak akan sesuai untuk yang lain. Inilah sebabnya mengapa penting untuk menyesuaikan penilaian risiko kebakaran di masing-masing lokasi, serta untuk memperbarui dan meninjau penilaian saat dan kapan perubahan terjadi, seperti saat ruangan dipindahkan, orang-orang di bangunan tersebut berubah (terutama jika terdapat anak-anak atau orang cacat atau lanjut usia).

Siapa pun dapat melakukan penilaian risiko kebakaran, asalkan dianggap ‘kompeten’, namun baru-baru ini ditemukan bahwa banyak pemilik bisnis tidak memiliki keterampilan atau pengetahuan untuk menyelesaikan penilaian risiko tanpa bantuan. Masalahnya muncul ketika orang yang melakukan penilaian risiko kebakaran tidak memiliki pengalaman dan kemampuan untuk sepenuhnya menganalisis risiko. Bagaimana jika risiko atau bahaya tidak terjawab?

Tapi bagaimana Anda menemukan penilai risiko yang andal? Jawabannya sederhana: use only verified and certified risk assessors!

Penilaian risiko kebakaran mudah dilakukan, namun sulit dilakukan dengan baik. Hampir semua orang yang memiliki latar belakang di industri kebakaran dapat menjadikan diri mereka sebagai penilai risiko kebakaran yang ‘profesional’. Bahkan ada ratusan perusahaan yang mengaku sebagai ‘expert’ risk assessors, namun tanpa ada bukti nyata seperti tidak memiliki sertifikat.

Tips Menerapkan Tindakan Pencegahan di Tempat Kerja
Safety K327 September 2024

Tips Menerapkan Tindakan Pencegahan di Tempat Kerja

Mengetahui klasifikasi area berbahaya merupakan hal yang sangat penting dalam lingkungan kerja karena dapat membantu mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko yang mungkin terjadi. Kecelakaan kerja dapat memiliki dampak negatif yang serius, termasuk cedera fisik yang parah atau bahkan kematian bagi pekerja yang terlibat.

Selain itu, kecelakaan juga dapat merugikan perusahaan dengan menyebabkan kerusakan pada peralatan dan properti, mengganggu produktivitas, serta menimbulkan biaya medis dan kompensasi yang tinggi. 

Tips Menerapkan Tindakan Pencegahan di Tempat Kerja

Menerapkan tindakan pencegahan di tempat kerja memerlukan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu dalam menerapkan tindakan pencegahan di tempat kerja:

  1. Komitmen manajemen untuk keselamatan kerja
    Manajemen harus memberikan komitmen yang kuat untuk keselamatan kerja dengan menetapkan kebijakan, memberikan sumber daya yang cukup, dan mendukung upaya keselamatan.
  2. Melibatkan pekerja dalam identifikasi bahaya dan penilaian risiko
    Pekerja adalah sumber informasi yang berharga tentang kondisi di tempat kerja. Libatkan mereka dalam proses identifikasi bahaya dan penilaian risiko untuk mendapatkan wawasan yang lebih baik tentang potensi bahaya di tempat kerja.
  3. Menyediakan pelatihan keselamatan kerja yang berkelanjutan
    Memberikan pelatihan keselamatan kerja yang terus-menerus kepada semua pekerja untuk meningkatkan kesadaran mereka terhadap bahaya dan cara mengurangi risiko di tempat kerja.
  4. Menerapkan dan memelihara program K3 yang efektif
    Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus dirancang dengan baik, diterapkan secara konsisten, dan diperbarui sesuai dengan perubahan kondisi di tempat kerja.
  5. Melakukan inspeksi rutin dan audit keselamatan kerja
    Lakukan inspeksi rutin untuk mengidentifikasi bahaya potensial dan memastikan bahwa semua tindakan pencegahan telah diterapkan dengan benar. Audit keselamatan kerja juga penting untuk mengevaluasi efektivitas program K3.
  6. Memberikan penghargaan dan pengakuan atas perilaku kerja yang aman
    Berikan penghargaan dan pengakuan kepada pekerja yang berkontribusi pada keselamatan kerja dengan mematuhi prosedur keselamatan, mengidentifikasi bahaya, atau memberikan saran untuk meningkatkan keselamatan.

Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman adalah tanggung jawab bersama. Keselamatan kerja merupakan prioritas yang harus dipegang oleh semua pihak terlibat, baik manajemen perusahaan maupun para pekerja. Dengan memahami klasifikasi area berbahaya dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat, kita dapat meminimalkan risiko kecelakaan kerja yang serius.

Dan dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang sesuai, seperti pelatihan keselamatan, penggunaan peralatan pelindung diri, dan penegakan prosedur keselamatan, kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi semua.

Bahaya Penerangan Yang Buruk Bagi Pekerja
Safety K307 April 2022

Bahaya Penerangan Yang Buruk Bagi Pekerja

Penerangan yang buruk bukan berati yang gelap. Namun penerangan yang baik ditempat kerja adalah yang tidak menyilaukan, yang tidak berkedip, yang tidak menimbulkan bayangan kontras dan tidak menimbulkan panas.  Biasanya intensitas pencahayaan dinyatakan dalam satuan Lux.

Dalam bekerja tentunya pencahayaan ini sangat penting, sehingga dalam regulasi pemerintah telah dibuatkan standarisasi berkaitan tingkat pencahayaan untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu. Misalnya untuk penerangan di halaman dan jalan standar yang ditetapkan pemerintah yaitu setidaknya 20 lux.

Atau untuk pekerjaan yang sifatnya mengerjakan bahan-bahan yang kasar, atau pergudangan untuk menyimpan barang-barang besar dan kasar setidaknya perlu 50 lux. Semakin teliti maka semakin tinggi juga intensitas yang diperlukan namun tetap ada batasannya. Karena pencahayaan yang terlalu terang juga bisa membahayakan.

Penerangan yang buruk atau yang tidak sesuai dengan jenis pekerjaannya akan menimbulkan risiko pada pekerja seperti kelelahan mata, berkurangannya kemampuan mampu hingga kerusakan indera mata.

Di beberapa kondisi, penerangan yang buruk juga dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.  Oleh karena itu penting memastikan bahwa kita bekerja dengan penerangan yang baik. Aturan terkait pencahayaan bisa dilihat di Permenaker no 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja (halaman 61)


Baik bukan berarti sangat terang, buruk bukan berarti redup. Tapi baik adalah yang sesuai dengan kebutuhan kita.
 
sumber : hsepedia
Mengenal Jenis Lifeline dan Komponen Utama Lifeline
Safety K316 September 2024

Mengenal Jenis Lifeline dan Komponen Utama Lifeline

Manfaat menggunakan lifeline sangat besar, tidak hanya bagi keselamatan pekerja tetapi juga bagi keselamatan keseluruhan di tempat kerja. Penggunaan lifeline dapat mengurangi risiko kecelakaan serius atau fatal yang bisa terjadi jika pekerja jatuh dari ketinggian.

Selain itu, dengan meningkatkan keselamatan kerja, penggunaan lifeline juga dapat mengurangi biaya yang terkait dengan kecelakaan kerja, seperti biaya medis, kompensasi pekerja, atau penundaan proyek. Dengan demikian, lifeline bukan hanya merupakan alat pengaman individual, tetapi juga merupakan investasi penting untuk keselamatan dan kesejahteraan pekerja serta kelangsungan bisnis.

Jenis-Jenis Lifeline

Terdapat empat jenis utama lifeline yang digunakan dalam berbagai aplikasi keselamatan dan industri. Mari kita jelaskan lebih detail tentang masing-masing jenis:

  1. Lifeline Statis
    Lifeline statis adalah jenis lifeline yang terpasang secara permanen pada anchor point tertentu. Lifeline ini biasanya digunakan dalam aplikasi climbing dan rescue di mana pekerja atau penyelamat perlu terikat pada titik tetap untuk mengamankan diri atau melakukan penyelamatan. Contoh dari lifeline statis mencakup single-leg lifeline, yang terdiri dari satu tali yang terhubung ke anchor point, serta double-leg lifeline, yang memiliki dua tali untuk meningkatkan keamanan.
  1. Lifeline Dinamis
    Lifeline dinamis memiliki fungsi shock absorber yang dapat meredam energi benturan saat terjadi jatuh. Ini membuatnya sangat cocok untuk aplikasi climbing dan industrial di mana risiko jatuh besar. Contoh dari lifeline dinamis mencakup single-leg lifeline dan double-leg lifeline dengan fungsi shock absorber yang disematkan. Saat terjadi jatuh, shock absorber pada lifeline dinamis akan mengurangi gaya yang bekerja pada tubuh pekerja, sehingga mengurangi risiko cedera serius.
  1. Lifeline Horizontal
    Lifeline horizontal dipasang untuk memberikan jalur horizontal yang aman bagi pekerja untuk bergerak di atas permukaan tertentu. Lifeline ini sering digunakan dalam aplikasi industrial dan rescue di mana pekerja harus berpindah secara horizontal di atas atap, platform, atau struktur lainnya. Contoh dari lifeline horizontal mencakup single-line lifeline, yang digunakan oleh satu pekerja, dan multi-line lifeline, yang memungkinkan beberapa pekerja untuk terikat pada satu lifeline untuk bekerja bersama-sama.
  1. Lifeline Vertical
    Lifeline vertical dipasang untuk naik atau turun secara vertikal, seperti dalam situasi climbing atau penyelamatan. Lifeline ini umumnya digunakan saat pekerja harus naik atau turun dari gedung tinggi, menara, atau struktur vertikal lainnya. Contoh dari lifeline vertical mencakup single-line lifeline, yang digunakan oleh satu pekerja, serta lifeline vertical dengan desain seperti tangga yang memudahkan pekerja untuk naik atau turun dengan lebih aman dan efisien.

Komponen Utama Lifeline

Komponen-komponen utama lifeline adalah unsur-unsur kunci yang bekerja bersama-sama untuk memberikan perlindungan dan keamanan kepada pekerja yang menggunakan lifeline. Berikut penjelasan tentang masing-masing komponen:

  1. Tali
    Tali adalah bagian utama dari lifeline yang terbuat dari bahan yang kuat dan tahan lama, seperti baja atau serat sintetis yang kuat. Tali ini menjadi tulang punggung dari keseluruhan sistem lifeline dan bertanggung jawab untuk menahan beban pekerja saat terjadi kejadian darurat, seperti jatuh.
  1. Karabiner
    Karabiner adalah alat pengait yang digunakan untuk menghubungkan lifeline ke anchor point atau titik pengait pada harness pekerja. Karabiner haruslah dirancang untuk menahan beban yang tinggi dan memiliki mekanisme penguncian yang aman untuk mencegah kelonggaran yang tidak diinginkan.
  1. Shock absorber
    Shock absorber adalah komponen penting dalam lifeline dinamis yang berfungsi untuk menyerap energi benturan saat terjadi jatuh. Saat pekerja jatuh, shock absorber akan meredam gaya benturan yang bekerja pada tubuh pekerja, mengurangi risiko cedera serius.
  1. Harness
    Harness adalah alat yang dipakai di tubuh pekerja untuk mendukung dan mendistribusikan beban jatuh saat terjadi kejadian darurat. Harness terdiri dari sabuk-sabuk yang melekat di tubuh pekerja dan titik-titik pengait untuk menghubungkan lifeline dan peralatan keselamatan lainnya.
  1. Descent device
    Descent device adalah alat yang digunakan untuk turun secara terkontrol pada lifeline. Alat ini biasanya digunakan dalam situasi penyelamatan atau evakuasi di mana pekerja harus turun dari ketinggian dengan aman dan terkendali.