Loading...
Mempersiapkan pengalaman terbaik untuk Anda
Loading...
Mempersiapkan pengalaman terbaik untuk Anda

Aktivitas berkendara sering menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari, terutama bagi perusahaan yang memiliki kendaraan operasional, pengemudi perusahaan, tim lapangan, teknisi, sales, hingga karyawan yang rutin melakukan perjalanan dinas.
Namun, kemampuan mengoperasikan kendaraan saja belum cukup untuk memastikan perjalanan berlangsung aman.
Kondisi lalu lintas yang padat, cuaca buruk, pengendara lain yang tidak terduga, kelelahan, penggunaan ponsel, hingga kesalahan dalam menjaga jarak dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Karena itu, perusahaan perlu membekali pengemudi dengan kemampuan untuk mengenali, mengantisipasi, dan merespons potensi bahaya sebelum berkembang menjadi kecelakaan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui Defensive Driving Training (DDT).
Defensive Driving Training atau DDT adalah pelatihan keselamatan berkendara yang berfokus pada kemampuan pengemudi dalam mengantisipasi potensi bahaya dan mengambil keputusan yang aman selama perjalanan.
Defensive driving bukan hanya mengenai kemampuan mengendalikan kendaraan.
Pengemudi juga dilatih untuk memahami situasi lalu lintas, menjaga jarak aman, mengendalikan kecepatan, menghindari distraksi, mengenali kondisi berbahaya, dan menyesuaikan cara berkendara dengan kondisi jalan maupun lingkungan.
NIOSH bahkan merekomendasikan pelatihan keselamatan pengemudi yang mencakup teknik defensive driving seperti mematuhi batas kecepatan, menjaga jarak aman, tetap fokus terhadap jalan, serta merespons kondisi cuaca buruk dengan tepat.
Dengan pendekatan tersebut, pengemudi diharapkan tidak sekadar bereaksi ketika bahaya sudah terjadi, tetapi mampu melakukan tindakan pencegahan lebih awal.
Mengemudi biasa umumnya berfokus pada kemampuan dasar dalam mengoperasikan kendaraan dan mengikuti aturan lalu lintas.
Defensive driving memiliki ruang lingkup yang lebih luas.
Seorang defensive driver tidak hanya memperhatikan kendaraan yang dikendarainya, tetapi juga:
membaca pergerakan kendaraan lain;
mengenali potensi bahaya di sekitar jalan;
menjaga ruang aman;
memperhitungkan kemungkinan kesalahan pengguna jalan lain;
menyesuaikan kecepatan dengan kondisi;
menghindari distraksi;
mempertimbangkan kondisi kendaraan; dan
mengelola kelelahan saat berkendara.
Dengan kata lain, prinsip defensive driving menekankan pada antisipasi dan pencegahan risiko.
Kecelakaan kendaraan yang terjadi ketika seseorang sedang menjalankan tugas perusahaan dapat memberikan dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar kerusakan kendaraan.
Insiden dapat menyebabkan cedera pekerja, terganggunya kegiatan operasional, biaya perbaikan kendaraan, hilangnya waktu kerja hingga kerugian lainnya.
OSHA menyebut program keselamatan berkendara sebagai salah satu cara untuk membantu melindungi sumber daya manusia maupun finansial perusahaan sekaligus mengurangi risiko kecelakaan yang melibatkan pekerja ketika menjalankan aktivitas perusahaan.
Berikut beberapa alasan mengapa perusahaan perlu mempertimbangkan pelatihan Defensive Driving.
Tujuan utama DDT adalah meningkatkan kemampuan pengemudi dalam menjaga keselamatan dirinya maupun pengguna jalan lainnya.
Peserta belajar mengenali potensi bahaya sebelum situasinya berkembang menjadi kondisi darurat.
Misalnya ketika terdapat:
kendaraan yang berpindah jalur secara tiba-tiba;
pengendara sepeda motor di area blind spot;
pejalan kaki yang hendak menyeberang;
kondisi jalan licin;
kendaraan berhenti mendadak;
jarak pandang terbatas; atau
lalu lintas yang sangat padat.
Dengan kemampuan membaca situasi tersebut, pengemudi memiliki lebih banyak waktu untuk mengambil keputusan.
Bagi perusahaan yang aktivitas pekerjaannya banyak dilakukan di jalan, kecelakaan lalu lintas juga merupakan salah satu risiko keselamatan kerja yang perlu dikelola.
WHO menyebut beberapa praktik keselamatan yang relevan bagi pekerjaan berkendara, seperti penggunaan sabuk keselamatan, pembatasan penggunaan ponsel saat mengemudi, pengendalian kecepatan, pemeliharaan kendaraan serta memastikan pengemudi memiliki kompetensi yang sesuai.
DDT dapat menjadi bagian dari pendekatan perusahaan dalam mengendalikan risiko tersebut.
Namun, pelatihan sebaiknya tidak berdiri sendiri. Program keselamatan berkendara juga perlu didukung oleh kebijakan perusahaan, pemeliharaan kendaraan, evaluasi pengemudi, manajemen perjalanan dan pengawasan.
Kecelakaan kendaraan berpotensi menghasilkan berbagai kerugian.
Dampaknya dapat berupa:
kerusakan kendaraan;
downtime kendaraan operasional;
biaya perbaikan;
kehilangan jam kerja;
terganggunya pengiriman atau pelayanan;
klaim asuransi; hingga
terhambatnya kegiatan operasional.
Dengan meningkatkan perilaku mengemudi yang aman, perusahaan dapat berupaya mengurangi kemungkinan terjadinya insiden tersebut.
OSHA juga menekankan bahwa program keselamatan berkendara dapat membantu melindungi sumber daya manusia dan keuangan perusahaan.
Salah satu hal terpenting dalam defensive driving adalah hazard awareness.
Pengemudi perlu terbiasa memperhatikan kondisi yang mungkin berubah dengan cepat.
Contohnya:
jarak kendaraan di depan;
posisi kendaraan di samping;
kendaraan yang berada di blind spot;
kondisi permukaan jalan;
perubahan lampu lalu lintas;
pejalan kaki;
pengendara sepeda motor;
kondisi cuaca;
area sekolah;
area konstruksi; dan
kemungkinan munculnya kendaraan dari persimpangan.
Kemampuan mengenali bahaya tersebut membantu pengemudi memiliki waktu lebih panjang untuk menentukan tindakan yang aman.
Penggunaan ponsel saat berkendara merupakan salah satu contoh distraksi yang dapat mengurangi perhatian pengemudi terhadap kondisi jalan.
Distraksi tidak terbatas pada ponsel.
Pengemudi juga dapat terdistraksi karena:
mengoperasikan sistem navigasi;
makan atau minum;
mencari barang di dalam kendaraan;
berbicara dengan penumpang;
mengatur perangkat kendaraan; atau
aktivitas lain yang mengalihkan perhatian.
WHO menyebut distracted driving sebagai salah satu faktor risiko penting dalam keselamatan jalan.
Karena itu, salah satu prinsip defensive driving adalah mempertahankan konsentrasi selama kendaraan berjalan.
Jarak aman memberikan pengemudi waktu untuk bereaksi apabila kendaraan di depan berhenti mendadak.
NIOSH menyebut bahwa dalam kondisi cuaca ideal, banyak ahli keselamatan merekomendasikan jarak minimal sekitar tiga detik terhadap kendaraan di depan, dan jarak tersebut perlu ditambah ketika berkendara malam hari atau dalam cuaca buruk.
Namun, penerapannya tetap perlu mempertimbangkan:
kondisi kendaraan;
kecepatan;
kondisi permukaan jalan;
cuaca;
visibilitas; dan
kondisi lalu lintas.
Semakin buruk kondisi berkendara, semakin besar ruang aman yang dibutuhkan.
Kecepatan merupakan faktor penting dalam keselamatan berkendara.
Kecepatan yang terlalu tinggi tidak hanya meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan, tetapi juga dapat meningkatkan tingkat keparahan akibat kecelakaan.
WHO menyatakan bahwa peningkatan kecepatan rata-rata berkaitan dengan meningkatnya risiko kecelakaan fatal.
Dalam Defensive Driving Training, peserta perlu memahami bahwa kecepatan aman tidak hanya ditentukan oleh batas maksimal yang tertera pada rambu.
Pengemudi juga perlu mempertimbangkan kondisi aktual seperti:
hujan;
kabut;
kepadatan lalu lintas;
tikungan;
kondisi jalan;
area permukiman; dan
keberadaan pengguna jalan lainnya.
Kelelahan dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat waktu reaksi, dan memengaruhi kemampuan pengemudi mengambil keputusan.
Karena itu, defensive driving juga berkaitan dengan kemampuan pengemudi mengenali kondisi dirinya sendiri.
NIOSH merekomendasikan agar perusahaan memasukkan pengelolaan kelelahan ke dalam program keselamatan berkendara dan menghindari penjadwalan yang mendorong pekerja mengemudi dalam kondisi terlalu lelah atau dalam jam kerja yang terlalu panjang.
Pengemudi juga perlu memiliki keberanian untuk berhenti dan beristirahat ketika kondisi tubuh sudah tidak aman untuk melanjutkan perjalanan.
Defensive driving tidak hanya berkaitan dengan perilaku pengemudi saat kendaraan bergerak.
Kondisi kendaraan juga menjadi bagian penting dari keselamatan.
Sebelum perjalanan, pengemudi sebaiknya melakukan pengecekan terhadap komponen penting seperti:
ban;
rem;
lampu;
kaca dan spion;
wiper;
indikator kendaraan;
sabuk keselamatan;
bahan bakar; dan
kondisi umum kendaraan.
WHO dan OSHA sama-sama menekankan pentingnya kendaraan yang aman dan dipelihara dengan baik sebagai bagian dari pengendalian keselamatan berkendara.
Isi pelatihan dapat berbeda tergantung kebutuhan perusahaan, jenis kendaraan, dan kondisi operasional.
Namun, program Defensive Driving Training yang komprehensif dapat mencakup:
Peserta memahami konsep berkendara defensif serta perbedaan antara mengemudi secara reaktif dan mengemudi secara antisipatif.
Pengemudi belajar mengenali bahaya yang terlihat maupun potensi bahaya yang belum muncul.
Peserta memahami pentingnya ruang aman serta bagaimana menyesuaikannya berdasarkan kondisi lalu lintas dan cuaca.
Pengemudi memahami cara menentukan kecepatan yang aman sesuai kondisi jalan.
Peserta mempelajari posisi blind spot kendaraan dan teknik pemeriksaan sebelum berpindah jalur atau melakukan manuver.
Membahas aktivitas yang dapat mengalihkan perhatian selama mengemudi dan bagaimana mengendalikannya.
Peserta memahami tanda-tanda kelelahan dan kapan perjalanan sebaiknya dihentikan sementara.
Perjalanan direncanakan dengan mempertimbangkan rute, kondisi kendaraan, waktu tempuh, cuaca, istirahat, serta risiko perjalanan.
Pengemudi memahami pemeriksaan dasar kendaraan sebelum digunakan.
Pelatihan idealnya tidak hanya berupa teori.
NIOSH menyebut kombinasi pembelajaran teori dengan praktik berkendara langsung sebagai pendekatan yang baik untuk pelatihan pengemudi.
DDT relevan bagi pekerja yang menggunakan kendaraan dalam aktivitas pekerjaannya.
Beberapa di antaranya adalah:
pengemudi operasional perusahaan;
driver direksi;
pengemudi logistik;
pekerja lapangan;
teknisi lapangan;
sales atau marketing lapangan;
supervisor proyek;
personel HSE atau QHSE;
pengemudi kendaraan proyek;
pekerja tambang;
pekerja perkebunan;
pengemudi kendaraan ringan atau light vehicle; dan
karyawan yang sering melakukan perjalanan dinas.
Perusahaan juga dapat memberikan pelatihan kepada supervisor atau manajemen yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan keselamatan kendaraan.
Keselamatan berkendara sering dianggap sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang yang memegang kemudi.
Padahal perusahaan juga memiliki peran penting.
Program keselamatan kendaraan yang efektif dapat mencakup:
Kebijakan perusahaan
Perusahaan perlu menetapkan aturan mengenai kecepatan, penggunaan sabuk keselamatan, penggunaan ponsel, kondisi kendaraan, dan aktivitas perjalanan.
Kompetensi pengemudi
Pengemudi perlu memiliki kompetensi sesuai kendaraan dan pekerjaan yang dilakukan.
Pemeliharaan kendaraan
Kendaraan perlu diperiksa serta dipelihara sesuai kebutuhan.
Journey management
Perusahaan perlu mempertimbangkan jadwal, rute, waktu istirahat, serta risiko perjalanan.
Evaluasi dan investigasi
Near miss maupun insiden berkendara perlu dicatat dan dievaluasi untuk mencegah kejadian berulang.
Pelatihan berkala
Kemampuan defensive driving sebaiknya diperbarui secara berkala, terutama bagi pekerja yang memiliki tingkat paparan berkendara tinggi.
NIOSH menekankan bahwa driver training merupakan salah satu bagian dari program keselamatan kendaraan yang lebih komprehensif, bukan satu-satunya pengendalian.
Perusahaan sebaiknya tidak memilih program DDT hanya berdasarkan durasi atau harga pelatihan.
Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan antara lain:
Pastikan trainer memiliki pengalaman dan pemahaman terhadap keselamatan berkendara serta aktivitas operasional kendaraan.
Pelatihan untuk pengemudi kendaraan ringan di perkotaan tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan pengemudi yang beroperasi di pertambangan, perkebunan, proyek, atau area industri.
Program idealnya memberikan pemahaman konseptual sekaligus kesempatan peserta mempraktikkan teknik defensive driving.
Penilaian membantu mengetahui apakah peserta telah memahami materi dan mampu menerapkannya.
Materi dan praktik sebaiknya relevan dengan kendaraan yang digunakan dalam aktivitas pekerjaan.
Jika diterapkan sebagai bagian dari sistem keselamatan berkendara yang lebih luas, DDT dapat membantu perusahaan:
meningkatkan kesadaran pengemudi terhadap risiko;
meningkatkan keterampilan berkendara;
membangun kebiasaan mengemudi yang lebih aman;
mengurangi perilaku berkendara berisiko;
meningkatkan kesiapan menghadapi kondisi darurat;
membantu menjaga kendaraan dan aset perusahaan;
mendukung program keselamatan kerja; serta
membangun budaya keselamatan dalam aktivitas transportasi perusahaan.
Tujuan Defensive Driving Training bukan untuk membuat pengemudi takut berada di jalan.
Sebaliknya, pelatihan bertujuan membuat pengemudi memiliki awareness, pengetahuan, kemampuan antisipasi, dan pengambilan keputusan yang lebih baik.
Keselamatan berkendara juga tidak berhenti setelah peserta menyelesaikan pelatihan.
Perusahaan perlu mengembangkan budaya di mana keselamatan menjadi prioritas ketika menentukan target perjalanan, jadwal kerja, penggunaan kendaraan hingga pengawasan perilaku berkendara.
Ketika pengemudi, supervisor dan manajemen memiliki komitmen yang sama, program defensive driving dapat menjadi bagian penting dari sistem keselamatan perusahaan.
Bagi perusahaan dengan aktivitas mobilitas tinggi, peningkatan kompetensi pengemudi merupakan salah satu investasi penting dalam program keselamatan kerja.
Midiatama Academy menyediakan berbagai program pelatihan K3 dan pengembangan kompetensi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
Melalui pelatihan Defensive Driving Training (DDT), peserta dapat meningkatkan pemahaman mengenai hazard awareness, pengendalian risiko berkendara, perilaku mengemudi aman, hingga teknik antisipasi terhadap kondisi berbahaya di jalan.
Program pelatihan yang tepat dapat membantu perusahaan membangun pengemudi yang tidak hanya mampu mengoperasikan kendaraan, tetapi juga memiliki pola pikir keselamatan dalam setiap perjalanan.
Defensive Driving Training adalah pelatihan keselamatan berkendara yang mengajarkan pengemudi untuk mengenali bahaya, mengantisipasi risiko, dan mengambil tindakan yang lebih aman untuk mencegah kecelakaan.
Tujuan utamanya adalah meningkatkan awareness dan keterampilan pengemudi sehingga mampu mengurangi perilaku berisiko serta menghadapi berbagai kondisi jalan dengan lebih aman.
DDT dapat diikuti oleh pengemudi operasional, driver perusahaan, pekerja lapangan, teknisi, sales, supervisor, hingga pekerja lain yang menggunakan kendaraan ketika menjalankan tugas perusahaan.
Pelatihan yang menggabungkan teori dan praktik berkendara memberikan kesempatan kepada peserta untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari. NIOSH juga menyebut kombinasi teori dan praktik langsung sebagai pendekatan yang baik dalam pelatihan keselamatan pengemudi.
Tidak ada pelatihan yang dapat menjamin seluruh kecelakaan dapat dicegah. DDT merupakan salah satu upaya untuk mengurangi risiko dan perlu dikombinasikan dengan kebijakan perusahaan, perawatan kendaraan, journey management, pengawasan, serta evaluasi berkala.