Loading...
Mempersiapkan pengalaman terbaik untuk Anda

Dalam dunia kerja, kecelakaan kerja bukan hanya berdampak pada kondisi pekerja, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas dan kelancaran operasional perusahaan. Karena itu, perusahaan perlu memiliki indikator untuk mengukur dampak dari insiden kerja yang terjadi.
Salah satu indikator yang paling sering digunakan dalam dunia K3 adalah Lost Time Injury (LTI). Istilah ini digunakan untuk menggambarkan cedera kerja yang menyebabkan pekerja kehilangan waktu kerja karena tidak dapat menjalankan tugasnya seperti biasa.
Memahami pengertian LTI, contoh kasusnya, hingga cara menghitungnya sangat penting bagi perusahaan agar dapat mengevaluasi performa keselamatan kerja dan meningkatkan upaya pencegahan kecelakaan di tempat kerja.
Lost Time Injury (LTI) adalah cedera akibat kecelakaan kerja yang menyebabkan pekerja tidak dapat bekerja atau harus absen setidaknya satu hari kerja atau satu shift setelah kejadian.
Dengan kata lain, jika seorang pekerja mengalami kecelakaan saat bekerja lalu harus beristirahat dan tidak bisa masuk kerja pada hari berikutnya karena cedera tersebut, maka kejadian itu termasuk kategori LTI.
Biasanya, kondisi ini terjadi karena pekerja membutuhkan:
LTI menjadi salah satu indikator penting dalam sistem manajemen K3 karena dapat menunjukkan seberapa besar dampak kecelakaan kerja terhadap pekerja maupun operasional perusahaan.
Semakin tinggi angka LTI, maka semakin besar pula gangguan yang ditimbulkan akibat kecelakaan kerja di lingkungan tersebut.
Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh kejadian yang termasuk Lost Time Injury:
Seorang pekerja terpeleset di lantai yang licin hingga mengalami cedera pada kaki dan harus beristirahat selama tiga hari.
Karena pekerja tidak bisa masuk kerja setelah kejadian, maka kasus ini termasuk LTI.
Pekerja terkena jatuhan material saat proses bongkar muat dan mengalami patah tulang sehingga harus menjalani perawatan selama beberapa minggu.
Kondisi ini termasuk Lost Time Injury karena menyebabkan hilangnya hari kerja.
Operator mesin mengalami luka serius pada tangan dan tidak dapat menjalankan pekerjaannya selama masa pemulihan.
Karena pekerja tidak bisa bekerja seperti biasa, kejadian tersebut juga dikategorikan sebagai LTI.
Tidak semua kecelakaan kerja otomatis masuk kategori Lost Time Injury.
Contoh kasus yang biasanya tidak termasuk LTI:
Misalnya, pekerja mengalami goresan kecil tetapi masih dapat bekerja normal setelah mendapatkan pertolongan pertama.
Karena tidak ada kehilangan hari kerja, maka kejadian tersebut tidak dihitung sebagai LTI.
Dalam praktiknya, perusahaan biasanya menghitung:
Keduanya digunakan untuk menilai tingkat kecelakaan kerja di perusahaan.
Perhitungan paling sederhana adalah menghitung jumlah kejadian cedera kerja yang menyebabkan pekerja kehilangan waktu kerja.
Dalam satu bulan terdapat:
Maka jumlah kasus LTI pada periode tersebut adalah:
LTI=3LTI = 3
Banyak perusahaan menggunakan LTIFR untuk mengetahui seberapa sering LTI terjadi dibandingkan total jam kerja.
Rumus LTIFR yang umum digunakan adalah:
LTIFR=Jumlah Kasus LTI×1,000,000Total Jam KerjaLTIFR = \frac{Jumlah\ Kasus\ LTI \times 1{,}000{,}000}{Total\ Jam\ Kerja}
Rumus ini menunjukkan jumlah kasus LTI dalam setiap 1 juta jam kerja.
Misalnya:
Maka:
LTIFR=4×1,000,000800,000=5LTIFR = \frac{4 \times 1{,}000{,}000}{800{,}000} = 5
Artinya, perusahaan memiliki:
5 kasus Lost Time Injury per 1 juta jam kerja.
Selain LTIFR, beberapa perusahaan juga menggunakan metode Incidence Rate seperti standar OSHA.
Rumusnya adalah:
Incidence Rate=Jumlah Kasus×200,000Total Jam KerjaIncidence\ Rate = \frac{Jumlah\ Kasus \times 200{,}000}{Total\ Jam\ Kerja}
Metode ini menggunakan angka 200.000 sebagai standar jumlah jam kerja pekerja dalam satu tahun.
Yang paling penting, perusahaan harus menggunakan metode yang konsisten agar data lebih mudah dibandingkan antarperiode maupun antardivisi.
Agar hasil perhitungan akurat, perusahaan perlu menyiapkan beberapa data berikut:
Pencatatan yang baik akan membantu perusahaan melakukan evaluasi keselamatan kerja secara lebih efektif.
LTI menjadi indikator penting dalam sistem keselamatan kerja karena dapat membantu perusahaan:
Semakin rendah angka LTI, biasanya menunjukkan bahwa sistem keselamatan kerja di perusahaan berjalan lebih baik.
Lost Time Injury (LTI) adalah cedera akibat kecelakaan kerja yang menyebabkan pekerja kehilangan waktu kerja karena tidak dapat menjalankan tugasnya seperti biasa.
Melalui pengukuran LTI dan LTIFR, perusahaan dapat mengetahui seberapa besar dampak kecelakaan kerja terhadap operasional dan keselamatan pekerja.
Karena itu, pencatatan dan evaluasi LTI menjadi bagian penting dalam penerapan sistem manajemen K3 agar perusahaan dapat terus meningkatkan budaya kerja yang aman, sehat, dan produktif.