Logo
Logo
BerandaPelatihanMidiatamaJadwalInstrukturKarirArtikel
Login
Artikel
Artikel Populer
10 Perbedaan Sertifikasi Ahli K3 Umum BNSP dan Kemnaker RI

10 Perbedaan Sertifikasi Ahli K3 Umum BNSP dan Kemnaker RI

6 Juni -14 Juni 2024, 410 Views

Tips Menerapkan Tindakan Pencegahan di Tempat Kerja

Tips Menerapkan Tindakan Pencegahan di Tempat Kerja

6 Juni -14 Juni 2024, 388 Views

Selain Fire Detector, Apa Komponen Lain yang Ada pada Fire Alarm?

Selain Fire Detector, Apa Komponen Lain yang Ada pada Fire Alarm?

6 Juni -14 Juni 2024, 365 Views

Bagaimana Cara Mencegah dan Mengurangi Rasa Sakit Perut Saat Maag Kambuh?

Bagaimana Cara Mencegah dan Mengurangi Rasa Sakit Perut Saat Maag Kambuh?

6 Juni -14 Juni 2024, 338 Views

Waspadai Bahaya Arc Flash – Ledakan Api Listrik

Waspadai Bahaya Arc Flash – Ledakan Api Listrik

6 Juni -14 Juni 2024, 325 Views

6 Klasifikasi Area Berbahaya dan Tindakan Pencegahannya

6 Klasifikasi Area Berbahaya dan Tindakan Pencegahannya

6 Juni -14 Juni 2024, 321 Views

Mengapa perlu melakukan penilaian risiko kebakaran?

Mengapa perlu melakukan penilaian risiko kebakaran?

6 Juni -14 Juni 2024, 313 Views

Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan Saat Memilih Lifeline

Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan Saat Memilih Lifeline

6 Juni -14 Juni 2024, 299 Views

Artikel Terbaru
Safety K3
Galian Maut: Adakah Pelanggaran Prosedur K3?
13 Desember 2021
Galian Maut: Adakah Pelanggaran Prosedur K3?
Safety K3
Keselamatan Bekerja Sendirian (Lone Worker)
10 Desember 2021
Keselamatan Bekerja Sendirian (Lone Worker)
Safety K3
Tips Keselamatan Kerja dalam Pengelasan
08 Desember 2021
Tips Keselamatan Kerja dalam Pengelasan
Safety K3
Apa yang menyebabkan Kebakaran dapat terjadi di Tempat Kerja?
06 Desember 2021
Apa yang menyebabkan Kebakaran dapat terjadi di Tempat Kerja?
Safety K3
Cara Menghindari Risiko Heat Stress bagi Pekerja Lapangan
04 Desember 2021
Cara Menghindari Risiko Heat Stress bagi Pekerja Lapangan
Safety K3
Apa Risiko Bekerja di Luar Ruangan Bersuhu Panas?
02 Desember 2021
Apa Risiko Bekerja di Luar Ruangan Bersuhu Panas?
Safety K3
Mengenal Limbah B3 Industri
30 November 2021
Mengenal Limbah B3 Industri
Safety K3
Mengenal Limbah Organik dan Anorganik
28 November 2021
Mengenal Limbah Organik dan Anorganik
1
...
44
45
46
43
44
45
46
47
...
59
  1. Home
  2. Artikel

Artikel

Galian Maut: Adakah Pelanggaran Prosedur K3?
Safety K3
Galian Maut: Adakah Pelanggaran Prosedur K3?

Penggalian adalah salah satu pekerjaan yang memiliki risiko cukup tinggi dalam berbagai kegiatan konstruksi. Contoh pekerjaan penggalian, yaitu pelaksanaan selokan bawah tanah, instalasi gorong-gorong, dan perbaikan darurat sarana bawah tanah.

Pada pekerjaan penggalian, baik owner proyek maupun kontraktor wajib melaksanakan pedoman teknis keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sesuai perundang-undangan yang berlaku.

Pekerjaan galian sangat berisiko tinggi karena berhubungan dengan karakteristik tanah galian. Kecelakaan kerja pada pekerjaan galian cenderung menyebabkan kematian, umumnya akibat tertimbun tanah, tersengat aliran listrik bawah tanah, kekurangan oksigen, dan menghirup gas beracun.

Kecelakaan banyak terjadi pada penggalian dengan kedalaman antara 1,6-5 meter dan selalu tanpa gejala awal terlebih dahulu. Maka, pedoman keselamatan kerja penggalian perlu dilaksanakan dengan baik untuk meminimalkan kecelakaan kerja.
 
Permenakertrans No. 01 Tahun 1980 tentang K3 konstruksi bangunan, Pasal 67 tentang penggalian, menyatakan:
  1. Setiap pekerjaan, harus dilakukan sedemikian rupa sehingga terjamin tidak adanya bahaya terhadap setiap orang yang disebabkan oleh kejatuhan tanah, batu atau bahan-bahan lainnya yang terdapat di pinggir atau di dekat pekerjaan galian.
  2. Pinggir-pinggir dan dinding-dinding pekerjaan galian harus diberi pengaman penunjang yang kuat untuk menjamin keselamatan orang yang bekerja di dalam lubang atau parit.

Selain itu, gorong-gorong galian juga harus cukup penerangan, dilengkapi jalan keluar yang aman, dilengkapi ventilasi buatan yang cukup, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan sarana komunikasi yang baik.

13 Desember 2021.
Midiatama
Keselamatan Bekerja Sendirian (Lone Worker)
Safety K3
Keselamatan Bekerja Sendirian (Lone Worker)

Pada dasarnya, setiap pengurus memiliki tanggung jawab untuk melindungi seluruh pekerja terlepas dari apakah mereka bekerja didampingi rekan kerja lain atau sendirian (lone worker). Namun untuk lone worker, pengurus akan menghadapi tantangan besar terkait dengan bahaya dan pengendaliannya.

Menurut Health and Safety Executive (HSE), lone worker adalah mereka yang bekerja sendirian tanpa pengawasan langsung atau dalam jarak yang dekat. Berikut beberapa profesi yang termasuk lone worker:

  • Sosial dan kesehatan, seperti perawat, dokter, pekerja sosial.
  • Pekerja rumahan, seperti penulis atau wiraswasta.
  • Transportasi dan logistik, seperti pengemudi, staf gudang, dan bongkar muat barang.
  • Konstruksi, seperti pekerja lapangan, manajer, surveyor, dan supervisor.
  • Pekerjaan di luar jam kerja. Orang yang bekerja di luar jam kerja, seperti petugas keamanan atau kebersihan.
  • Utilitas, orang yang bekerja di perusahaan air, gas, dan listrik, seperti petugas pembaca meteran, petugas pemeliharaan atau perbaikan.

Seseorang yang bekerja sendirian berpotensi mendapatkan risiko yang lebih berat daripada mereka yang bekerja didampingi rekan kerja lain. Contohnya dalam keadaan darurat, lone worker akan kesulitan dalam meminta pertolongan karena tidak ada yang mendengar atau melihat mereka secara langsung.

Fakta mengenai lone worker:

  • Berdasarkan data British Crime Survey, di Inggris, sebanyak 150 lone worker mendapatkan serangan setiap harinya. Korban serangan bervariasi dan terjadi di sejumlah industri serta berbagai posisi pekerjaan. Serangan ini meliputi serangan fisik dan verbal.
  • Berdasarkan data OSHA, di Amerika Serikat, antara tahun 2002 hingga 2012 sebanyak 18 pekerja galangan kapal tewas saat bekerja sendirian. Mengacu pada regulasi OSHA,  maka perusahaan yang bersangkutan memutuskan untuk lebih fokus pada masalah lone worker ini.
  • OSHA menyatakan pengurus harus melindungi lone worker di galangan kapal, yang sering kali berada di lokasi terpencil, untuk segera mendapatkan pertolongan jika terjadi kecelakaan atau keadaan darurat.
  • OSHA juga mewajibkan pengurus untuk mengawasi atau memeriksa lone worker secara berkala, baik satu kali inspeksi untuk tugas singkat atau beberapa kali inspeksi dalam sehari untuk penugasan yang lebih lama.
10 Desember 2021.
Midiatama
Tips Keselamatan Kerja dalam Pengelasan
Safety K3
Tips Keselamatan Kerja dalam Pengelasan
Setiap kali dilakukan pengerjaan pengelasan di tempat kerja, perlu diperhatikan tingkat keselamatannya. Untuk itulah mengetahui bagaimana keselamatan kerja dalam pengelasan itu menjadi sangat penting.
 
Sebab pengerjaan pengelasan ini menghasilkan asap dan partikel yang bisa berbahaya bagi pekerja. Dalam artikel ini dibahas bagaimana cara untuk mengurangi tingkat paparan asap dan partikel sehingga pengelasan yang aman bisa tercapai.
 
Langkah Awal Pengelasan yang Aman
Salah satu langkah pertama yang harus dilakukan dalam menciptakan keselamatan kerja pengelasan adalah dengan memastikan ventilasi atau sistem pembuangan yang efektif untuk melindungi diri dari paparan asap dan partikel yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit atau ketidaknyamanan saat bekerja.
 
Pekerjaan welding atau pengelasan sendiri merupakan pekerjaan yang sering dilakukan di sektor manufaktur atau konstruksi. Untuk itu, perusahaan maupun pekerja sangat penting untuk menyadari bahaya apa saja yang melekat dari pekerjaaan mengelas ini. Selain itu, pekerja perlu memakai respirator yang dapat membantu mengurangi tingkat terkena paparan asap.
 
Respirator adalah salah satu Alat Pelindung Diri (APD) yang harus dipakai pekerja saat mengelas. Terutama jika tempat pekerjaaan mengelas belum memiliki sistem ventilasi yang baik. Dan meskipun tempat pengelasan sudah terdapat ventilasi yang memadai, sebaiknya pekerja tetap memakai respirator. Sebab ventilasi yang ada tidak bisa untuk menghilangkan semua bahaya dari paparan itu.
 
Pemilihan repirator yang tepat juga sangat penting. Anda bisa pilih respirator sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Jika asap yang keluar masuk kategori beracun, maka respirator yang harus dipakai adalah yang dilengkapi dengan penyuplai udara (Supplied Air Respirator System).
 
Tidak hanya dengan menyediakan respirator yang baik, pihak perusahaan juga perlu untuk menguji tingkat racun dari asap yang dihasilkan selama proses pengelasan. Hal ini sangat penting. Sebab sering kali asap beracun dari pekerjaan welding ini tidak berbau atau berwarna. Karena tidak kasat mata itu kemudian sering kali pekerja menjadi abai untuk waspada.
 
Dengan demikian, bisa disimpulkan berikut ini yang perlu dilakukan untuk menciptakan keselamatan kerja pengelasan yaitu:
  1. Menguji tingkat racun asap hasil pengelasan
  2. Pemasangan ventilasi atau saluran pembuangan yang tepat
  3. Pekerja memakai respirator yang sesuai.
Pekerjaaan pengelasan tidak bisa dianggap sepele. Pekerjaan ini termasuk yang berkategori berbahaya. Karena itulah sudah menjadi kewajiban perusahaan dan pekerja untuk membuat lingkungan pengelasan yang aman dan sehat.
08 Desember 2021.
Midiatama
Apa yang menyebabkan Kebakaran dapat terjadi di Tempat Kerja?
Safety K3
Apa yang menyebabkan Kebakaran dapat terjadi di Tempat Kerja?

Mengetahui cara mencegah kebakaran di tempat kerja akan menekan kerugian kecelakaan yang menyebabkan kebakaran. Tentunya informasi mengenai pencegahan kebakaran ini harus disampaikan dengan tepat kepada seluruh personil keamanan sekaligus karyawan.

Selain informasi yang baik, pelatihan kecelakaan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran juga harus dilakukan. Terutama bila mengingat banyak sekali potensi bahaya di tempat kerja yang dapat menimbulkan kebakaran yang menelan banyak sekali kerugian.

Penyebab kebakaran di tempat kerja

Kecelakaan yang menyebabkan kebakaran dapat terjadi di mana saja. Namun di tempat kerja dengan banyak sekali mesin yang terhubung pada saluran listrik serta penggunaan bahan-bahan kimia selama proses produksi membuat resiko terjadinya kebakaran di tempat kerja jauh lebih besar dibandingkan tempat lainnya.

Untuk menekan risiko kebakaran di tempat kerja, mengetahui penyebab kebakaran sangat diperlukan. Berikut ini beberapa penyebab kebakaran di tempat kerja:

  1. Kelalaian yang dilakukan oleh karyawan seperti merokok sembarangan menjadi potensi bahaya kebakaran terbesar. Selain merokok, kelalaian seperti lupa mematikan aliran listrik yang terhubung pada mesin produksi juga menjadi penyebab utama kebakaran di tempat kerja.
  2. Kesengajaan yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab juga dapat menjadi penyebab kebakaran di tempat kerja. Kesengajaan ini dapat berupa penggantian komponen mesin atau alat-alat perusahaan yang tidak memenuhi standar sehingga menyebabkan kecelakaan kerja yang berakibat pada kebakaran.
  3. Api menyala sendiri akibat dari bertemunya unsur-unsur pembentuk api dengan bahan-bahan yang mudah terbakar. Hal ini seringkali terjadi pada beberapa pabrik atau perusahaan yang menyimpan bahan bakar sembarangan hingga tanpa diketahui menguap yang kemudian bertemu panas sehingga timbul reaksi pembakaran.

Dengan mengetahui penyebab atau potensi bahaya kebakaran yang terjadi di tempat kerja akan membuat setiap personil keamanan, karyawan sekaligus pihak tertinggi perusahaan waspada terhadap bahaya kebakaran. Selain itu mengetahui tiga unsur kebakaran yaitu bahan bakar, oksigen dan panas juga akan membuat setiap siaga dalam melakukan tata laksana cara mencegah kebakaran di tempat kerja.

06 Desember 2021.
Midiatama
Cara Menghindari Risiko Heat Stress bagi Pekerja Lapangan
Safety K3
Cara Menghindari Risiko Heat Stress bagi Pekerja Lapangan
Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai "Risiko Bekerja di Luar Ruangan Bersuhu Panas". Nah sekarang kita akan memberitahu bagaimana caranya untuk menghindari risiko akibat Heat Stress ini. Yuk baca artikelnya!
 
Yang Perlu Dilakukan Pekerja Lapangan
Sebagai karyawan, Anda juga perlu mengambil tanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan kesehatan Anda serta orang-orang yang ada di sekitar Anda. Untuk itu, ada sejumlah cara langkah yang dapat Anda lakukan, seperti :
  • Banyak minum. Pekerja yang bekerja di lingkungan yang panas harus minum setengah liter air per jam. Dengan begitu bisa mencegah agar tidak sampai kekurangan cairan. Selain itu, hindari untuk mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein, alkohol atau banyak gula karena minuman tersebut dapat memicu dehidrasi.
  • Makan lebih sering. Pekerja perlu makan lebih sering. Pastikan menu makanan yang dimakan bermenu sehat. Selain itu juga perlu cemilan untuk makanan ringan saat bekerja.
  • Gunakan krim matahari. Saat berada di luar ruangan, sebaiknya Anda gunakan krim tabir surya. Dengan begitu krim ini bisa mencegah Anda terpapar dari sinar UV yang berbahaya.
  • Hindari perubahan ekstrim suhu. Misalnya setelah berada di luar ruangan yang bersuhu panas, Anda kemudian langsung mandi air dingin. Hal ini harus dihindari sebab sangat berbahaya. Karena dapat menyebabkan hipotermia atau memicu serangan jantung.
  • Saat mengalami kelelahan kerja, segeralah untuk mencoba pindah ke tempat yang lebih dingin dan lakukan istirahat. Kemudian minum minuman dingin dan carilah tenaga medis untuk memeriksa kondisi Anda. Dengan begitu, jika ada kondisi yang berbahaya bisa segera ditangani.
  • Harus waspada jika bekerja di lingkungan yang berbahaya, seperti berdekatan dengan mesin, bahan kimia, maupun bekerja di ketinggian.
  • Lihat juga kondisi teman kerja. Jika Anda lihat teman Anda merasa tidak kuat berada di suhu yang panas, segera ambil tindakan untuk menolongnya. Beri tahukan juga yang lain agar bisa membantu memberikan pertolongan bila mengalami heat stress.
04 Desember 2021.
Midiatama
Apa Risiko Bekerja di Luar Ruangan Bersuhu Panas?
Safety K3
Apa Risiko Bekerja di Luar Ruangan Bersuhu Panas?
Bagi pekerja luar ruangan pastilah sudah biasa dengan suhu udara yang panas. Meski demikian, tetap saja pekerja jenis ini harus mengetahui potensi bahaya risiko heat stress yang muncul dari cuaca panas itu. Sehingga risiko buruk itu dapat dicegah agar tidak sampai terjadi.
 
Apa Risiko Bekerja di Luar Ruangan Bersuhu Panas?
Bagi sebagian besar pekerja luar ruangan, seperti pekerja konstruksi, mungkin sudah tahu mengenai risiko dari paparan langsung sinar matahari. Sinar UV yang dalam jangka pendek bisa menyebabkan kulit terbakar, bahkan dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit.
 
Namun, bukan hanya itu saja sebenarnya risiko heat stress yang dihadapi pekerja yang terkena suhu panas. Dan itu bisa menimpa semua pekerja, baik yang bekerja di dalam ruangan maupun di luar ruangan. berikut ini risiko yang dapat muncul.
  • Kelelahan karena kepanasan. Hal ini disebabkan karena kurangnya asupan cairan, yang dapat menyebabkan mual dan badan menjadi lemah. Jika tidak segera ditangani, pekerja pun dapat menjadi pingsan atau bahkan mengalami kondisi yang berpotensi mengancam jiwa. Sebab saat itu biasanya tubuh kehilangan kemampuan untuk mengontrol diri.
  • Mengalami lesu dan kehilangan konsentrasi. Ya, ini juga akibat yang bisa timbul jika pekerja terus-menerus terpapar suhu panas. Ketika pekerja kehilangan konsentrasi, saat itulah kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja lebih tinggi. Terlebih bagi driver atau pengemudi yang butuh konsentrasi tinggi saat menyeir. Turunnya konsentrasi bisa berakibat fatal pada terjadinya kecelakaan.
  • Stres dan kecemasan. Hal ini juga bisa muncul bagi pekerja yang terkena panas. Pekerja akan mudah untuk mengalami stres. Akibat lainnya bisa membuat pengambilan keputusan mmenjadi buruk. Oleh karena itu sangat penting untuk mengambil pendekatan yang komprehensif untuk kesehatan dan kesejahteraan di lingkungan kerja panas.
02 Desember 2021.
Midiatama
Mengenal Limbah B3 Industri
Safety K3
Mengenal Limbah B3 Industri
Limbah saat ini menjadi suatu permasalahan yang terjadi pada fenomena antara masyakarat umum dan pemilik usaha seperti pabrik. Permasalahan ini muncul tentunya akibat dari penanganan limbah B3 industri yang tidak baik, sehingga berdampak terhadap ekosistem lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, berikut ulasan tentang apa itu limbah B3 industri serta bagaimana cara menanganinya.
 
"Tentang Limbah B3 Industri dan Contohnya" Limbah B3 industri merupakan suatu buangan sisa yang dihasilkan dari sebuah proses industri secara besar-besar seperti pabrik, ataupun yang bersifat rumah tangga. Jika dilihat dari kandungan kimia limbah B3 industri tentunya akan sangat berbahaya untuk lingkungan hingga kesehatan yang berdampak negatif.
 
Hal ini disebabkan karena limbah B3 mempunyai karakter yang bersifat beracun, mudah terbakar, mempunyai kandungan korosif dan sebagian bisa meledak.  Limbah B3 industri bisa dilihat dari beberapa contoh. Berikut contoh limbah B3 industri yang wajib untuk kamu ketahui.
 
1. Limbah Logam berat yang ada di perairan. Salah satu cara sebuah pabrik membuang limbahnya yaitu dengan mengalirkan ke air yang nantinya bermuara ke laut. Hal ini tentunya tidak dibenarkan karena dapat merusak ekosistem ikan, serta bagi manusia yang memakan ikan yang sudah terkandung senyawa tidak baik pada ikan tentunya akan berdampak buruk pada kesehatan manusia juga.
 
Contoh logam berat seperti barang-barang yang terbuat dari tembaga, tembaga sendiri mempunyai kandungan senyawa yaitu sulfida. Pabrik-pabrik menggunakan senyawa tersebut untuk memproduksi barang seperti gelas, peralatan yang mengandung listrik dan lain-lain. Tembaga yang sudah tercampur air nantinya akan membentuk suatu partikel yang merusak ekosistem air.
2. Limbah deterjen dan pupuk kimia, Masih banyak pabrik yang membuang limbah B3 industri seperti deterjen dan sisa buangan pupuk secara sembarangan, padahal ini juga merupakan suatu hal yang mengganggu kesehatan.
 
Dampak terkecil dari limbah deterjen dan pupuk yaitu dapat membuat kulit mengalami iritasi, mulai dari gatal, panas hingga merusak jaringan kulit. Hal ini disebabkan limbah deterjen dan pupuk mempunyai PH yang tergolong cukup tinggi.
 
Selain itu, untuk sumber air yang sudah terkontaminasi dengan limbah deterjen dan pupuk tentunya bisa berdampak buruk dalam jangka waktu yang panjang pada kesehatan manusia serta berpotensi menyebabkan penyakit kanker karsinogenik pada tubuh.
 
3. Limbah gas, Limbah gas merupakan salah satu limbah B3 industri yang menjadi fenomena yang berdampak buruk untuk alam. Hal ini dikarenakan gas buangan dari limbah industri merupakan gas yang kotor dan tergolong bisa menyebabkan polusi serta penyakit pada manusia. Limbah ini menyebabkan oksigen menjadi menipis, serta  berdampak pada pemanasan global akibat adanya penipisan lapisan ozon.
30 November 2021.
Midiatama
Mengenal Limbah Organik dan Anorganik
Safety K3
Mengenal Limbah Organik dan Anorganik
Perbedaan limbah organik dan anorganik tentu sangat banyak. Hal inilah yang menyebabkan kedua jenis limbah ini harus dipisahkan agar dapat diolah dengan lebih baik. Lalu apa saja perbedaannya? Mari simak ulasan berikut ini.
 
Asalnya, dilihat dari asalnya kedua jenis limbah ini memang sangat berbeda. Limbah organik merupakan limbah yang berasal dari alam. Segala jenis makanan yang berasal dari alam merupakan limbah yang termasuk dalam golongan organik. Limbah ini mudah busuk dan diuraikan sehingga lebih mudah untuk diolah. Berbeda dengan limbah anorganik.
 
Limbah anorganik merupakan limbah yang biasanya berasal dari pabrikan. Mereka dibuat dari bahan-bahan kimia atau bahan alam yang dicampurkan dengan bahan kimia. Biasanya mereka lebih sulit untuk diurai atau diurai dalam waktu yang lama.
 
Karakteristiknya, Untuk karakteristiknya, limbah yang berasal dari bahan organik biasanya akan menimbulkan bau. Hal ini memang bisa terjadi karena limbah ini memang bisa dengan mudah membusuk. Bahkan tanpa dilakukan pengolahan bahan ini dapat menghilang dengan sendirinya.
 
Berbeda dengan limbah anorganik. Limbah anorganik tidak akan hilang dan terurai ketika dibiarkan begitu saja. Hal ini disebabkan karena limbah ini memang memiliki struktur kimia yang tidak stabil untuk lingkungan sehingga tidak bisa terurai.
Karena sulit sekali untuk diuraikan, maka jenis limbah anorganik seharusnya tidak dibuang secara sembarangan terutama ke sungai. Hal ini akan menyebabkan pencemaran lingkungan seperti yang sering terjadi saat ini. Dampak buruknya adalah kerusakan alam dan juga punahnya binatang-binatang karena habitatnya yang rusak karena pencemaran lingkungan.
 
Cara Pengolahannya, Meski Perbedaan limbah organik dan anorganik ini cukup banyak, tapi kedua jenis sampah atau limbah ini tetap memiliki persamaan, persamaannya adalah keduanya dapat diolah. Pengolahan dari kedua limbah ini tetap berbeda. Untuk limbah organik, limbah ini merupakan kebalikan dari limbah anorganik dari sisi struktur kimia.
 
Jika limbah anorganik merupakan limbah dengan struktur kimia yang tidak stabil, limbah organik merupakan limbah dengan struktur kimia yang stabil. Struktur kimia yang stabil pada limbah organik ini menyebabkannya dapat menjadi bahan yang baik ketika di olah dan di kembalikan ke alam.
 
Ketika dikembalikan ke alam bentuk dari limbah organik adalah bentuk kompos. Kompos bisa berasal dari sisa sampah organik rumah tangga yang kemudian di busukkan. Tapi setelah berubah menjadi kompos, limbah organik tidak lagi menjadi bau dan dapat menjadi penyubur untuk tanah.
 
Sedangkan untuk limbah anorganik, limbah ini dapat diolah dengan berbagai cara ada yang mendaur ulang limbah anorganik menjadi barang lain yang lebih bermanfaat tapi ada juga proses daur ulang yang dilakukan dengan cara pembakaran atau penghancuran.
28 November 2021.
Midiatama
1
...
44
45
46
43
44
45
46
47
...
59

Artikel Populer

10 Perbedaan Sertifikasi Ahli K3 Umum BNSP dan Kemnaker RI

05 September 2024.
410 Views
10 Perbedaan Sertifikasi Ahli K3 Umum BNSP dan Kemnaker RI

Tips Menerapkan Tindakan Pencegahan di Tempat Kerja

27 September 2024.
388 Views
Tips Menerapkan Tindakan Pencegahan di Tempat Kerja

Selain Fire Detector, Apa Komponen Lain yang Ada pada Fire Alarm?

24 Agustus 2023.
365 Views
Selain Fire Detector, Apa Komponen Lain yang Ada pada Fire Alarm?

Bagaimana Cara Mencegah dan Mengurangi Rasa Sakit Perut Saat Maag Kambuh?

11 Mei 2023.
338 Views
Bagaimana Cara Mencegah dan Mengurangi Rasa Sakit Perut Saat Maag Kambuh?

Waspadai Bahaya Arc Flash – Ledakan Api Listrik

19 Agustus 2024.
325 Views
Waspadai Bahaya Arc Flash – Ledakan Api Listrik

6 Klasifikasi Area Berbahaya dan Tindakan Pencegahannya

23 September 2024.
321 Views
6 Klasifikasi Area Berbahaya dan Tindakan Pencegahannya

Mengapa perlu melakukan penilaian risiko kebakaran?

26 Agustus 2024.
313 Views
Mengapa perlu melakukan penilaian risiko kebakaran?

Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan Saat Memilih Lifeline

19 September 2024.
299 Views
Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan Saat Memilih Lifeline